Tuesday, February 11, 2020
Bolu Pisang dan Es Krim
"Ma, kakak ranking satu, mana janji mama mau beliin es krim," rengek Dika putra sulungku. Sejak pulang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila si sulung yang baru kelas dua SD akan meraih ranking satu, pikirku saat berjanji paling dia hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa.
"Sabar ya, Nak, tunggu ibu gajian tanggal satu," janjiku, padahal aku pun tahu tanggal satu nanti upah menjadi buruh cuci separuhnya akan habis menyicil hutang pengobatan ketika almarhum suami sakit dulu.
Dika cemberut. Aku tahu dia kecewa. Tak banyak pinta anak ini sebenarnya, hanya sebuah es krim ketika ia ranking satu. Tapi bagiku itu barang mahal.
Ah seandainya saja Dika ranking dua atau tak usahlah ranking sekalian, ia pasti tak sekecewa ini.
Keterpurukan hidupku bermulai ketika suami yang tiap hari bekerja sebagai buruh bangunan kecelakaan dan lumpuh. Tiap Minggu harus bolak balik kontrol ke rumah sakit, walau pakai BPJS namun kerepotan ini tetap membutuhkan biaya hingga hutang pun menumpuk.
Ketika suami akhirnya pergi selamanya, hutang-piutang pun berdatangan meminta haknya untuk dilunasi.
Aku pasrah. Memohon kepada si pemberi hutang agar memberi kelonggaran dengan mencicil.
Bukan tak mau bekerja lebih giat lagi, namun selain Dika, aku memiliki Anita putri bungsuku yang masih berusia dua tahun. Tak semua orang mau menerima pekerja rumah tangga yang membawa balita.
Sejak itu aku melakukan kerja apapun, mulai dari buruh cuci, hingga upahan membuat kue. Kebetulan kata orang-orang bolu pisang buatanku enak.
(Mbak, bisa buatin bolu pisang?) Sebuah pesan masuk.
Aku bersorak. Alhamdulillah tak sia-sia mengisi pulsa data beberapa hari yang lalu dan mengaktifkan WA ku. Ada pesanan masuk.
(Bisa Mbak, mau berapa loyang?)
(2 loyang, ngambilnya habis Zuhur bisa?)
(Bisa Mbak.) Aku menyanggupi.
(Tapi bolu pisangnya jangan pakai gula ya, biar manisnya ngambil dari pisangnya saja. Anakku alergi gula.)
(Siap, Mbak. Otw dibuat.)
(Berapa harganya?)
(50.000 Mbak.)
(40.000 saja ya, kan gak pakai gula.)
Aku menelan ludah. Ya Tuhan, padahal dalam tiap loyangnya aku hanya mengambil untung 20.000.
(Ya sudah karena Mbak ngambil dua, aku kasih.)
(Oke, tapi aku gak bisa ngambil ke rumah ya, Mbak. Aku mau pergi liburan, jadi jam 1 aku tunggu di depan SMP yang ada di simpang itu.)
(Oke siap.)
Aku segera gerak cepat menyiapkan semua bahan dan mulai bekerja. Baru jam sembilan berarti masih banyak waktu luang. Kebetulan ada pisang Ambon yang belum terpakai jadi gak perlu beli ke pasar.
Alhamdulillah aku bisa mendapat untung dua puluh ribu dari penjualan dua loyang bolu pisang.
Sepuluh ribunya bisa buat beli es krim harga lima ribu untuk si sulung dan bungsu dan sisanya untuk tambahan belanja besok.
Setelah sholat Zuhur, jam 12.30 aku segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Si sulung mengekor langkahku dengan riang karena terbayang es krim yang bakal didapat. Si bungsu sedang tidur siang jadi kugendong saja.
Tempat janjian kami cukup jauh sekitar setengah kilometer dari rumah. Walau tengah hari dan terik matahari tengah garang menyerang, aku tetap semangat, demi Rp20.000.
Jam satu kurang lima menit kami telah tiba di tempat janjian. Mungkin sebentar lagi yang memesan akan datang.
Sepuluh menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun tak kunjung ada tanda bila si pemesan akan datang.
Beberapa pesan telah kukirim sejak tadi namun hanya terkirim dan belum dibaca.
Aku menelpon berkali-kali pun tak kunjung diangkat. Sudah hampir satu jam menanti.
Si sulung telah lelah dan merengek sementara si bungsu telah bangun dan ikut meraung karena kepanasan.
Ting! Sebuah pesan masuk. Hatiku bersorak, dari si pemesan kue.
(Ya Allah Mbak, maaf ya aku lupa. Ini suami berubah pikiran, awalnya dia bilang berangkat habis Zuhur eh tahunya jam sepuluh udah mau buru-buru. Jadi gak sempat kasih kabar. Mbak, jual bolunya sama orang lain saja ya, aku udah otw ke kampung.)
Aku langsung terduduk lemas. Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Apalagi ini? Aku tak meminta banyak ya Allah, hanya es krim saja.
Peluhku yang sudah sejak tadi mengucur, kini bercampur dengan air mata.
Siapa yang ingin membeli bolu pisang tanpa gula dengan rasa manis yang alakadarnya?
Ya Allah, berkali aku menyeka air mata yang terus membasahi wajah.
Sulungku berhenti merengek, ia langsung diam melihat air mataku. Lama ia menatapku iba. Kedua netranya mulai berkaca. Tak tega hati ini melihatnya. Ia hanya ingin es krim seharga 5000 ya Allah.
"Dika gak akan minta es krim lagi Bu, tapi ibu jangan nangis." Dika kecilku berkata dengan suara yang bergetar. Sepertinya ia pun menahan tangis.
"Kita pulang, Nak," ucapku. Dika mengangguk, si bungsu pun tangisnya mulai mereda. Sepertinya ia mengerti akan kegundahan hati ini.
Ya Allah, beginilah rasanya. Sakit ya Allah, sakit, sakit, sepele bagi mereka namun begitu berat bagiku. Bahan-bahan bolu itu adalah modal terakhir dan kini seolah sia-sia.
Ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Berat, sungguh berat, belum lama suamiku pergi dan kini rasanya aku lemah.
Tak banyak ya Allah hanya ingin es krim saja, itu saja, untuk menyenangkan buah hatiku dan kini bukan untung yang kudapat malah kerugian yang telah nyata di depan mata.
Aku baru saja memasuki halaman rumah kontrakan ketika Bu Tia tetanggaku kulihat telah menunggu.
"Eh, ibunya Dika, dicariin, untung cepat pulang."
"Ada apa Bu?" tanyaku. Semoga saja wanita baik ini akan memberikanku perkerjaan. Apa saja boleh, bahkan yang terkasar sekalipun akan kuterima. Tapi gak mungkin, di rumah besarnya sudah ada dua pembantu yang siap sedia. Aku kembali membuang anganku.
"Gini, ibu jangan tersinggung ya." Bu Tia menatapku.
Aku mengangguk, ingin kukatakan bila rasa tersinggung itu sudah lama lenyap dalam kamus hidupku.
"Papanya anak-anak kan baru pulang jemput kakek neneknya dari bandara. Ya dasar laki-laki tahunya kan cuma nyenengin anak tapi gak tahu yang baik. "
Aku mengangguk walau belum paham kemana arah pembicaraan.
"Masa dia ngebeliian anak-anak es krim sampai lima buah. Padahal anakku kan masih batuk pilek parah. Jadi, daripada buat rusuh, mau ya Bu nerima es krim ini, untuk Dika dan adiknya." Bu Tia menyerahkan plastik putih berisi es krim padaku.
Aku terdiam tak sanggup berkata-kata.
"Asikkk." Dika bersorak, aku masih bergeming.
"Lo, yang ibu bawa itu apa?" tanya Bu Tia melirik kantong hitam berisi dua kotak bolu pisangku.
"Bolu pisang Bu, tapi gak manis, kebetulan yang mesan batal. "
"Wah kebetulan, neneknya di rumah itu diabetes jadi gak bisa makan manis. Saya beli ya untuk cemilan."
"Benar Bu?" Aku bertanya tak percaya.
"Iya, berapa harganya?"
"Berapa saja, Bu. Terserah, asal jadi uang."
"Ya sudah." Bu Tia menyerahkan dua lembar uang merah ke dalam genggamanku.
"Ya Allah Bu, ini kebanyakan ," ucapku.
"Sudah, gak apa. Ambil saja, kalau mesan yang kayak gini emang mahal kok Bu." Bu Tia langsung mengambil kantong berisi bolu pisang dan bergegas pergi.
Aku masih diam dengan air mata yang mulai menetes lagi. Baru saja mengeluh akan pahitnya hidup dan kini semua telah terbayar lunas.
*
Bu Tia meletakkan bolu pisang yang baru ia beli di atas meja makan.
Ia duduk dan memandang dua kotak bolu pisang itu dengan tatapan berkaca.
Sungguh zolim sebagai tetangga, bahkan ada seorang janda yang kesusahan pun ia tak tahu. Sementara baru saja ia membeli tas branded seharga jutaan dan tak jauh dari rumahnya ada seorang anak yatim merengek pada ibunya hanya demi sebuah es krim.
Untung saja Fahri putranya bercerita, bila tidak pastilah kezoliman ini akan terus berlangsung.
"Ma, tadi yang juara 1 Dika, tetangga kita yang di ujung itu." lapor putra sulungnya.
"Bagus dong, les dimana dia?"
"Gak les kok, Ma. Orang dia miskin kok."
"Hey, gak boleh menghina orang lain." Bu Tia melotot pada putranya.
"Gak menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh Ma, masa kan ibunya janji mau beliin dia es krim kalau ranking satu eh pas dia ranking satu malah ibunya bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Dika ya , Ma. Mana kalau di sekolah dia suka mandang jajanan temannya kayak ngiler gitu tapi pas dikasih dia nolak. Malu mungkin ya, Ma." Fahri bercerita panjang lebar.
Bu Tia terdiam.
Ya Allah mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktiv ikut kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar.
"Ma, bolunya gak ada rasa, kurang enak," ucap Fachri membuyarkan lamunannya.
"Sengaja, makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles selai buah."
"Ohhh, gitu ya. Tumben mama pesan bolu tawar."
"Lagi pengen aja."
Bu Tia menghela napas panjang. Tak akan terulang lagi, jangan sampai ada tangis anak yatim yang kelaparan di sekitarnya.
Anak yatim itu bukan tanggung jawab ibunya saja tapi keluarga dan orang sekitar.
*
Sepele bagi kita namun berarti bagi mereka.
Ada kala sisa nasi kemarin sore yang tak tersentuh di atas meja makan kita adalah mimpi dari anak-anak yang telah berhari-hari terpaksa hanya berteman dengan ubi rebus saja.
Jangan heran menatap binar seseorang yang begitu terharu ketika gaun pesta yang menurut kita sudah ketinggalan jaman itu kita berikan pada mereka.
Uang lima puluh ribu yang sangat mudah lenyap ketika dibawa ke mini market bertukar dengan kinderj*y dan beraneka jajanan yang habis dalam sekejap itu adalah setara dengan hasil kerja keras seorang buruh dari subuh hingga menjelang Magrib.
Bersedekah itu gak perlu banyak, sedikit saja dari yang kita punya. Memberi itu jangan menunggu kaya, saat kekurangan lah justru diri harus lebih bermurah hati.
Beruntunglah bila di sekitar begitu banyak ladang sedekah dimana kita dapat menukar rupiah menjadi pahala. Kaya itu bukan pada jumlah harta tapi bagaimana kita membelanjakannya. Akherat itu ada dan sudah kah kita menyiapkan hunian di sana?
Pengingat diri agar lebih peka.
Saturday, January 25, 2020
BIAYA MASUK TOILET
Di dalam sebuah mall, ada toilet yang ada penjaganya dan ada juga yang tidak. Yang ada penjaganya biasanya untuk masuk kesana dan menggunakan jasa yang disediakan akan dimintakan ongkos. Sementara yang tidak ada penjaga pengunjung bisa menggunakan fasilitas secara gratis.
Di depan sebuah Toliet yang ada penjaganya berdiri seorang pria yang sudah cukup berumur dan menatap ke arah penjaga toilet tersebut.
PENJAGA : Maaf Pak...!!
Untuk Masuk Toilet,Bapak Harus Bayar Rp:2000.
ORANG TUA : ( Terdiam menekur dan kemudian meneteskan air mataya)
PENJAGA : Eh... Kenapa Bapak Menangis? Kalau Bapak Gak Punya Uang Bilang Aja, Nanti Saya Gratiskan. Silahkan Bapak Masuk Saja.
ORANG TUA : Nak... Aku Menangis Bukan Karna Tidak Punya Uang. Malah Aku Punya Banyak Uang. Jangankan Hanya Untuk Membayar Harga Masuk Toilet. Membeli Toilet Ini Pun Aku Mampu Jika Aku Mau.
PENJAGA : Lantas, Kalau Begitu, Kenapa Bapak Menangis...?
ORANG TUA : Aku Menangis Karna Tempat Sekotor Ini Pun Punya Harga Yg Harus Dibayar Bila Ingin Masuk. Apa Lagi Surga Yg Begitu Harum Dan Indah. Berapa Harga Yg Harus Ku Bayar,
Cukupkah Amalku.... Ibadahku... Pelayanan ku.... Untuk Membayar Masuk Surga ???
PENJAGA : ( Hanya terdiam dan menunduk)
Tuesday, December 31, 2019
BERBOHONG KARENA HARGA DIRI
Abu Nawas berjalan di tengah pasar sambil menengadah melihat ke dalam topinya. Orang-orang memperhatika ulah Abu Nawas itu dengan wajah heran. Apakah Abu Nawas telah gila ? Apalagi dia melihat kedalam topinya sambil tersenyum dan penuh bahagia.
Salah seorang datang menghampiri Abu Nawas
“Wahai saudaraku, apa yang sedang kamu lihat di dalam topi itu?
“Aku sedang melihat sorga lengkap dengan barisan bidadari..”, kata Abu Nawas dengan wajah cerah dan senyum puas.
“Coba aku lihat !”
“Saya engga yakin kamu bisa melihat seperti yang saya lihat”
“Mengapa?”
“Karena hanya orang yang beriman dan sholeh saja yang bisa lihat sorga di topi ini.” Kata Abu Nawas meyakinkan.
“Coba aku lihat” Kejar si penanya penasaran.
“Silahkan” kata Abu Nawas…
Orang itu melihat kedalam topi itu dan sejenak kemudian dia melihat kearah Abu Nawas, “Benar kamu, Aku melihat sorga di topi ini dan juga bidadari. Subhanallah! Allahuakbar!”, kata orang itu berteriak dan didengar orang banyak.
Abu Nawas tersenyum.
Sementara orang banyak yang menyaksikan ulah Abu Nawas ingin pula membuktikan apakah benar ada sorga di dalam topi itu. Abu Nawas mengingatkan kepada mereka semua: “Ingat hanya orang beriman dan sholeh yang bisa lihat sorga didalam ini. Yang tak beriman tidak akan melihat apapun.”
Satu demi satu orang melihat kedalam topi Abu Nawas itu. Ada yang dengan tegas menyatakan melihat sorga dan ada juga yang mengatakan Abu Nawas bohong.
Abu Nawas tetap tenang saja sambil menebar senyum. Akhirnya, bagi mereka yang tidak melihat sorga di dalam topi itu melaporkan kepada Raja.
Bahwa Abu Nawas telah menebarkan kebohongan kepada orang banyak.
Raja memanggil Abu Nawas menghadap raja.
Di hadapan Sang Raja, “Abu Nawas!!” seru Raja, “benarkah kamu bilang di dalam topi mu bisa nampak sorga dengan sederet bidadari cantik?”
“Benar raja, tapi yang bisa melihat hanya orang beriman dan sholeh. Bagi yang tidak bisa melhat itu artinya dia tidak beriman dan kafir”
“Oh begitu, coba saya buktikan apakah benar cerita kamu itu.” Kata Sang Raja, yang segera melihat kedalam topi Abu Nawas dari sudut kiri dan kanan, atas dan bawah.
Akhirnya raja terdiam seakan berpikir “Benar tidak nampak sorga di dalam topi ini. Tapi andaikan aku bilang tidak ada sorga maka orang banyak akan tahu aku termasuk tidak beriman dan termasuk kafir. Tentu akan hancur reputasiku,” demikian kira kira yang di pikirkan Raja.
Akhirnya dengan wajah yang seakan girang dan penuh kemantaban, Raja bersorak: “Benar! Saya sebagai saksi, bahwa di dalam topi Abu Nawas kita bisa melihat sorga dengan sederetan bidadari!”. Orang banyak akhirnya menerima cerita Abu Nawas karena kawatir berbeda dengan Raja.
Sanggupkah anda berbohong hanya demi GENGSI?
Katakanlah benar itu benar walaupun pahit....
“Wahai saudaraku, apa yang sedang kamu lihat di dalam topi itu?
“Aku sedang melihat sorga lengkap dengan barisan bidadari..”, kata Abu Nawas dengan wajah cerah dan senyum puas.
“Coba aku lihat !”
“Saya engga yakin kamu bisa melihat seperti yang saya lihat”
“Mengapa?”
“Karena hanya orang yang beriman dan sholeh saja yang bisa lihat sorga di topi ini.” Kata Abu Nawas meyakinkan.
“Coba aku lihat” Kejar si penanya penasaran.
“Silahkan” kata Abu Nawas…
Orang itu melihat kedalam topi itu dan sejenak kemudian dia melihat kearah Abu Nawas, “Benar kamu, Aku melihat sorga di topi ini dan juga bidadari. Subhanallah! Allahuakbar!”, kata orang itu berteriak dan didengar orang banyak.
Abu Nawas tersenyum.
Sementara orang banyak yang menyaksikan ulah Abu Nawas ingin pula membuktikan apakah benar ada sorga di dalam topi itu. Abu Nawas mengingatkan kepada mereka semua: “Ingat hanya orang beriman dan sholeh yang bisa lihat sorga didalam ini. Yang tak beriman tidak akan melihat apapun.”
Satu demi satu orang melihat kedalam topi Abu Nawas itu. Ada yang dengan tegas menyatakan melihat sorga dan ada juga yang mengatakan Abu Nawas bohong.
Abu Nawas tetap tenang saja sambil menebar senyum. Akhirnya, bagi mereka yang tidak melihat sorga di dalam topi itu melaporkan kepada Raja.
Bahwa Abu Nawas telah menebarkan kebohongan kepada orang banyak.
Raja memanggil Abu Nawas menghadap raja.
Di hadapan Sang Raja, “Abu Nawas!!” seru Raja, “benarkah kamu bilang di dalam topi mu bisa nampak sorga dengan sederet bidadari cantik?”
“Benar raja, tapi yang bisa melihat hanya orang beriman dan sholeh. Bagi yang tidak bisa melhat itu artinya dia tidak beriman dan kafir”
“Oh begitu, coba saya buktikan apakah benar cerita kamu itu.” Kata Sang Raja, yang segera melihat kedalam topi Abu Nawas dari sudut kiri dan kanan, atas dan bawah.
Akhirnya raja terdiam seakan berpikir “Benar tidak nampak sorga di dalam topi ini. Tapi andaikan aku bilang tidak ada sorga maka orang banyak akan tahu aku termasuk tidak beriman dan termasuk kafir. Tentu akan hancur reputasiku,” demikian kira kira yang di pikirkan Raja.
Akhirnya dengan wajah yang seakan girang dan penuh kemantaban, Raja bersorak: “Benar! Saya sebagai saksi, bahwa di dalam topi Abu Nawas kita bisa melihat sorga dengan sederetan bidadari!”. Orang banyak akhirnya menerima cerita Abu Nawas karena kawatir berbeda dengan Raja.
Sanggupkah anda berbohong hanya demi GENGSI?
Katakanlah benar itu benar walaupun pahit....
Friday, December 27, 2019
MENUTUP AIB SAUDARAMU
Sekelompok anak muda menghadiri sebuah resepsi pernikahan.
Salah seorang di antaranya melihat guru SD nya.
Murid itu menyalami gurunya dengan penuh penghormatan, seraya berkata:
"Masih ingat saya kan, pak guru?”
Gurunya menjawab, “wah maaf nak, sudah tidak ingat. Anak murid bapak buanyak sekali. Maaf ya."
Murid itu bertanya keheranan, "Masa sih, pak guru tidak ingat saya."
"Saya kan... murid yang dulu mencuri jam tangan salah seorang teman di kelas."
"Ketika anak yang kehilangan jam itu menangis, pak guru menyuruh kita untuk berdiri semua, karena akan dilakukan penggeledahan saku murid semuanya."
"Saat itu saya berfikir, bahwa saya akan dipermalukan dihadapan para murid dan para guru, dan akan menjadi tumpahan ejekan dan hinaan, mereka akan memberikan gelar kepada saya: "pencuri" dan harga diri saya pasti akan hancur, selama hidup saya."
"Bapak menyuruh kami berdiri menghadap tembok dan menutup mata kami semua."
"Bapak menggeledah kantong kami, dan ketika tiba giliran saya, Bapak ambil jam tangan itu dari kantong saya, dan Bapak lanjutkan penggeledahan sampai murid terakhir."
"Setelah selesai, Pak guru menyuruh kami membuka penutup mata, dan kembali ke tempat duduk masing-masing."
"Saya takut Bapak akan mempermalukan saya di depan murid murid lain yang semuanya teman teman saya."
"Bapak tunjukkan jam tangan itu dan Bapak berikan kepada pemiliknya, tanpa menyebutkan siapa yang mencurinya."
"Selama saya belajar di sekolah itu, Bapak tidak pernah bicara sepatah kata pun tentang kasus jam tangan itu, dan tidak ada seorang pun guru maupun murid yang bicara tentang pencurian jam tangan itu."
"Bapak masih ingat saya kan pak?"
"Bagaimana mungkin Bapak tidak mengingat saya??"
"Saya adalah murid Bapak, dan cerita itu adalah cerita pedih yang tak akan terlupakan selama hidup saya."
"Saya sangat mengagumi Bapak. Sejak peristiwa itu saya berubah menjadi orang yang baik dan benar hingga sekarang saya jadi orang sukses.
Saya mencontoh semua akhlak dan sikap, juga perilaku Bapak."
Sang Guru itu pun menjawab,
"Sungguh aku tidak mengingatmu, karena pada saat menggeledah itu, aku sengaja menutup mataku, agar aku tidak mengenalmu."
"Karena aku tidak mau merasa kecewa atas perbuatan salah satu muridku, aku sangat mencintai semua murid-muridku..."
*
Sahabat...
Pendidikan memerlukan akhlak yang mengajari bagaimana menutup segala keburukan orang lain.
Seperti kisah di atas bagaimana akhlak guru terhadap muridnya dan juga murid terhadap gurunya.
Karena pada hakikatnya setiap kita adalah guru,
dan setiap kita adalah murid.
Tutuplah Aib saudaramu, tahanlah lisanmu, dan jangan menyebarkannya.
Aib yang nyata saja diperintahkan Allah untuk ditutup, apalagi Aib yang belum tentu benar/salahnya, atau masih simpang siur kabarnya.
Tutupi Aib saudaramu di dunia maka Allah SWT akan menutupi Aibmu di akhirat.
Memaafkan, memaklumi, dan berempati adalah sikap orang yang berjiwa besar.
Guru memiliki tugas mulia, yakni mendidik muridnya memiliki jiwa besar.
😍😊 👍
Thursday, December 26, 2019
Pilih Qory Anda!
Assalamualaikum Wr Wb
Hi, bagi yang membutuhkan link untuk mendengarkan Al Quranul Kariim silakan visit link berikut ini. Canggih, tidak repot. Cukup pencet saja salah satu dari puluhan foto Qori' dan pilih surahnya, dan anda akan mendengar suara yg sangat merdu dengan lantunan ayat Al-Quran.
Tidak perlu download aplikasi. *Langsung klik saja tulisan yg berwarna biru dibawah ini sesuai keinginan saudara in sya Allah mantab.
http://www.quran4iphone.com/MenuPhotosEN.html#y
Silahkan kalau mau dikirimkan keseluruh group Anda, mudah²an menjadi Amal Jariyah.
Aamiin yarobbal Alamiin Wassalam
Hi, bagi yang membutuhkan link untuk mendengarkan Al Quranul Kariim silakan visit link berikut ini. Canggih, tidak repot. Cukup pencet saja salah satu dari puluhan foto Qori' dan pilih surahnya, dan anda akan mendengar suara yg sangat merdu dengan lantunan ayat Al-Quran.
Tidak perlu download aplikasi. *Langsung klik saja tulisan yg berwarna biru dibawah ini sesuai keinginan saudara in sya Allah mantab.
http://www.quran4iphone.com/MenuPhotosEN.html#y
Silahkan kalau mau dikirimkan keseluruh group Anda, mudah²an menjadi Amal Jariyah.
Aamiin yarobbal Alamiin Wassalam
Subscribe to:
Posts (Atom)